Untuk mencapai kualitas demokrasi yang diharapkan, tentunya secara berkesinambungan dan berkelanjutan perlu dikembangkan budaya politik yang berorientasi kepada sikap dan etika politik yang mencerminkan kedewasaan politik. Dibutuhkan jiwa besar, legowo, dan siap menerima kekalahan serta menghormati yang menang.
Tengoklah pidato kekalahan John McCain yang bobotnya tidak kalah luar biasa dibandingkan dengan pidato kemenangan Obama. “Tidak ada di dalam hati saya, kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya menjadi lawan saya, semoga berhasil dan menjadi presiden saya”, ujar McCain. Hal yang sama juga terjadi pada Pemilu Amerika Serikat sebelumnya, di mana secara sengit akhirnya Al Gore dikalahkan oleh Bush dengan selisih sangat tipis. Al Gore mengucapkan selamat, menerima kekalahan, tidak ada protes, tidak ada anarki. Ternyata benar, Al Gore mendapatkan hadiah Nobel sedangkan Bush dicap sebagai salah satu presiden AS terburuk.
Sportifitas adalah budaya, budaya adalah konsensus bersama yang nilainya dibawa ke dalam benak setiap individu. Penanaman budaya seperti ini rasanya masih kurang ditanamkan oleh masyarakat kita, budaya gengsi dan menang sendiri masih sangat terasa di sana-sini. Perlu ditanamkan sejak dini bahwa kalah dan mengakui kekalahan adalah terhormat, bukan sesuatu yang memalukan atau menurunkan harga diri. Sikap ini justru menunjukkan kebesaran jiwa, sikap ksatria dan kedewasaan diri.
Sangat menyentuh sekali pidato McCain, dan sangat menyedihkan sekali konflik beberapa Pilkada di Indonesia yang disebabkan tidak mau mengakui kekalahannya.Wajah masyarakat yang tidak mau menerima kekalahan adalah wajah yang belum menunjukan tanda-tanda kedewasaan. Entahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar